NOS dan Cloud Computing
Nama : Muhammad Abel Jollando
NIM : 2005551073
Matakuliah : Network Operating System
Dosen : I Putu Agus Eka Pratama, S.T., M.T.
TEKNOLOGI INFORMASI/TEKNIK/UNIVERSITAS UDAYANA
Abstrak :
Mata kuliah Network Operating System merupakan matakuliah yang membahas seputar sistem operasi yang digunakan dalam dunia jaringan komputer. Dalam mata kuliah ini, mahasiswa dan dosen membahas seputar konsep dasar dari sistem operasi, evolusi sistem operasi, fungsionalitas sistem operasi, konsep dasar Network Operating System, infrastruktur pendukung Network Operating System, karakteristik dari Network Operating System, jenis-jenis Network Operating System, serta penggunaan Network Operating System dalam jaringan komputer.
Pendahuluan :
Matakuliah Network Operating System merupakan mata kuliah yang membahas seputar sistem operasi yang digunakan dalam dunia jaringan komputer. Dalam mata kuliah ini membahas teknologi cloud computing secara umum dan peran NOS pada teknologi cloud computing.

Cloud computing atau secara kata bila diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dapat berbunyi “Komputasi Awan”,adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer (‘komputasi’) dan pengembangan berbasis Internet (‘awan’). Cloud computing adalah sebuah konsep pemahaman dalam rangka pembuatan kerangka kerja komputasi secara online lokal (LAN) maupun global (internet) dimana terdapat beragam aplikasi maupun data dan media penyimpanan yang dapat diakses dan digunakan secara berbagi (shared service) dan bersamaan (simultaneous access) oleh para pengguna yang beragam – mulai dari perseorangan sampai kepada kelas pengguna korporasi atau perusahaan. Awan (cloud) adalah metafora dari internet, sebagaimana awan yang sering digambarkan di dalam diagram jaringan komputer. Sebagaimna awan dalam diagram jaringan komputer tersebut, awan (cloud) dalam Cloud Computing juga merupakan abstraksi dari infrastruktur kompleks yang disembunyikannya. Ia adalah suatu metoda komputasi di mana kapabilitas terkait teknologi informasi disajikan sebagai suatu layanan (as a service), sehingga pengguna dapat mengaksesnya lewat Internet (“di dalam awan”) tanpa mengetahui apa yang ada didalamnya, ahli dengannya, atau memiliki kendali terhadap infrastruktur teknologi yang membantunya.
Deployment Model Infrastruktur Cloud :
- Private Cloud Deployment Model, merupakan layanan infrastruktur cloud yang dapat dioperasikan hanya untuk sebuah perusahaan atau organisasi tertentu saja. Pengguna/Pelanggan yang menggunakan model infrastruktur private cloud biasanya organisasi dengan skala yang besar (perusahaan besar). Model Infrastruktur private cloud dapat dikelola sendiri oleh organisasi atau oleh pihak ke-tiga dengan lokasi on-site maupun off-site.
- Public Cloud Deployment Model, merupakan layanan infrastruktur public cloud memberikan jenis layanan yang disediakan untuk umum (public) atau untuk group perusahaan. Kelebihan dari infrastruktur public cloud yaitu dapat dibagikan ke berbagai pengguna (user) yang berbeda. Public Cloud juga tergolong murah dan mudah untuk setup atau meng-setting layanan. Layanan ini disediakan oleh perusahaan penjual layanan cloud, seperti AWS, Google, Microsoft, Azure, dan Rackspace.
- Community Cloud Deployment Model, merupakan layanan infrastruktur yang digunakan secara bersama-sama oleh beberapa organisasi atau perusahaan yang memiliki kesamaan kepetingan (bisnis). Misalanya dari sisi misinya, atau tingkat keamanan yang dibutuhkan, dan lain sebagainya. Community Cloud ini merupakan “pengembangan terbatas” dari private cloud. Dan sama layaknya private cloud, infrastruktur cloud yang ada bisa di-manage atau dikelola oleh salah satu dari organisasi tersebut ataupun juga oleh pihak ketiga.
- Hybrid Cloud Deployment Model, merupakan kombinasi dari dua atau lebih infrastruktur cloud, seperti Private, Community, atau Public Cloud. Walaupun secara entitas mereka tetap berdiri sendiri-sendiri, tetapi infrastruktur tersebut dapat dihubungkan oleh suatu teknologi/mekanisme tertentu. Teknologi ini lah yang dapat memungkinkan portabilitas data dan aplikasi antar cloud tersebut. Misalnya, mekanisme load balancing yang antarcloud, dimana alokasi sumber daya bisa dipertahankan pada level yang optimal.
Cloud Computing Berdasarkan Jenis Layanan :
Berdasarkan jenis layanan cloud yang ada saat ini, itu terdapat 3 jenis yang akan dijabarkan melalui gambar di bawah ini.

Gambar di atas menjelaskan secara singkat mengenai ketiga jenis layanan cloud yang ada saat ini. Untuk lebih lengkapnya, akan dijabarkan sebagai berikut.
- SaaS (System as a Service), Layanan yang menyediakan aplikasi jadi / siap pakai kepada End user. Ciri dari layanan ini adalah user tidak perlu membuat aplikasi, tidak perlu menyiapkan tempat dan juga infrastruktur.Contoh SaaS adalah gmail, ymail, facebook, twitter, dropbox. atau yang berbayar seperti salesforce, office365, dsb.
- PaaS (Platform as a Service), Layanan yang menyewakan “tempat” untuk menjalankan aplikasi dari user. Tempat yang dimaksud seperti sistem operasi, database, framework, dsb yang merupakan wadah untuk berjalannya aplikasi. Ciri dari layanan ini adalah user tidak perlu melakukan maintenance dan tidak perlu menyiapkan infrastruktur. Sehingga user dapat tetap fokus membangun aplikasinya.Contoh Pass adalah Windows Azure, Amazon Web Service, GoogleApp Engine.
- IaaS (Infrastructure as a Service), Layanan yang menyewakan infrastruktur IT kepada user yang ingin membangun layanan cloud. Infrastruktur disini bersifat fisik, bisa berupa memory, penyimpanan, server, jaringan, dsb. Hal-hal seperti membuat aplikasi dan konfigurasinya diserahkan kepada user. Cloud provider hanya menyediakan infrastruktur berdasarkan request dari user. Ciri layanan ini adalah jika user ingin mengupgrade memory atau menambah server, user tinggal menghubungi provider kemudian provider akan menyediakan sesuai dengan permintaan.Contoh IaaS adalah Amazon EC2, Rackspace cloud.
Alasan untuk Menggunakan Cloud :
Pada dunia industri 4.0 saat ini, sistem cloud computing sudah banyak sekali digunakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Bahkan, tanpa kita sadari kita juga menggunakan cloud dengan jenis layanan SaaS. Contohnya? jika anda menggunakan Android dengan basis ROM MIUI maka anda akan sangat akrab dengan keamanan terintegrasi cloud milik Xiaomi, yakni Mi Cloud. Selain itu, jika kita ingin sharing file dengan mudah, bukankah kita juga menggunakan dropbox ataupun google drive yang memang merupakan sebuah SaaS?. Baik, berikut ini merupakan berbagai alasan yang dapat melatarbelakangi penggunaan cloud.
- Pengurangan Biaya Investasi Hardware, Investasi hardware dapat ditekan lebih rendah karena virtualisasi hanya mendayagunakan kapasitas yang sudah ada. Tak perlu ada penambahan perangkat komputer, server dan pheriperal secara fisik. Kalaupun ada penambahan kapasitas harddisk dan memori, itu lebih ditujukan untuk mendukung stabilitas kerja komputer induk, yang jika dihitung secara finansial, masih jauh lebih hemat dibandingkan investasi hardware baru.
- Kemudahan Backup & Recovery, Server-server yang dijalankan didalam sebuah mesin virtual dapat disimpan dalam 1 buah image yang berisi seluruh konfigurasi sistem. Jika satu saat server tersebut crash, kita tidak perlu melakukan instalasi dan konfigurasi ulang. Cukup mengambil salinan image yang sudah disimpan, merestore data hasil backup terakhir dan server berjalan seperti sedia kala. Hemat waktu, tenaga dan sumber daya.
- Kemudahan Deployment, Server virtual dapat dikloning sebanyak mungkin dan dapat dijalankan pada mesin lain dengan mengubah sedikit konfigurasi. Mengurangi beban kerja para staff IT dan mempercepat proses implementasi suatu sistem.
- Mengurangi Panas, Berkurangnya jumlah perangkat otomatis mengurangi panasnya ruang server/data center. Ini akan berimbas pada pengurangan biaya pendinginan/AC dan pada akhirnya mengurangi biaya penggunaan listrik.
- Mengurangi Biaya Space, Semakin sedikit jumlah server berarti semakin sedikit pula ruang untuk menyimpan perangkat. Jika server ditempatkan pada suatu co-location server/data center, ini akan berimbas pada pengurangan biaya sewa.
- Kemudahan Maintenance & Pengelolaan, Jumlah server yang lebih sedikit otomatis akan mengurangi waktu dan biaya untuk mengelola. Jumlah server yang lebih sedikit juga berarti lebih sedikit jumlah server yang harus ditangani
- Standarisasi Hardware, Virtualisasi melakukan emulasi dan enkapsulasi hardware sehingga proses pengenalan dan pemindahan suatu spesifikasi hardware tertentu tidak menjadi masalah. Sistem tidak perlu melakukan deteksi ulang hardware sebagaimana instalasi pada sistem/komputer fisik.
- Kemudahan Replacement, Proses penggantian dan upgrade spesifikasi server lebih mudah dilakukan.
Jika server induk sudah overload dan spesifikasinya tidak mencukupi
lagi, kita bisa dengan mudah melakukan upgrade spesifikasi atau
memindahkan virtual machine ke server lain yang lebih powerful.
Referensi :
[1] I Putu Agus Eka Pratama. 2022. “PDF Materi Pertemuan 10 Network Operating System : NOS dan Cloud Computing”. Jimbaran. Universitas Udayana.
Komentar
Posting Komentar